Wednesday, November 25, 2009

Eye contact...

"Tatap matanya kalo pengen tau kedalaman hatinya"
"Mata adalah jendela"
"Mata akan berbicara banyak"
"Mata tidak pernah bohong"

Entah deh berapa banyak orang membuat perumpamaan untuk menggambarkan bagaimana mata mengandung makna dalam setiap tatapannya....

Sebagai seorang sales, peranan mata pun sangat besar, buat apa? Jadi inget ama Pak Malik (dulu adalah mentor freelance dari Singapura), beliau selalu pesan, "Jangan inferior..."
"building your convidance dengan orang asing",

lha kenapa kok beliau pesen gitu. Kebayang kan, orang asia gitu lho, selalu menganggap orang bule, american or european itu adalah dewa, lebih pandai, lebih banyak duitnya, lebih maju... lebih tinggi (cuman yang paling belakang doang yang bener, klo lain-lainnya sama aja mah kayak aku gito... hehehehe). Dan itu tuh pada awalnya susah banget, perasaan rendah diri itu tiba-tiba muncul aja, apalagi karena nervous.

"So, gimana caranya?", Pak malik ngelanjutin
"Eye contact!", kata beliau sambil mengangkat jari tengah ama telunjuknya dan mengarahkan ke kedua matanya
"katakan dengan tegas, saya senang berkenalan dengan anda, sambil tatap kedua mata lawan bicara anda beberapa detik dan jabat tanganya dengan mantap, cukup dengan sekali ayunan, itu sebagai latihan awal. Ready...?!"

hiyaaaaa.... ternyata nggak mudah. Karena, sekali lagi sebagai orang timur neh, ada perasaan risih, ewuh dan gimana gitu untuk berbicara dengan menatap mata lawan bicara.
Dan kata kuncinya, lagi-lagi... latihan. Cuman dengan berlatih hal itu menjadi mudah.

Lha kenapa harus begitu, "karena begitulah orang-orang sukses melakukannya!"

P.s. begitu langkah awal itu sudah diambil, akan selalu ada kenikmatan untuk melakukannya lagi, dan lagi dan lagi... hehehehe...

Derajat hewan?

Disela-sela kesibukan mencabik-cabik daging qurban di Masjid Al-Hikmah Saptamarga III Jangli (hehehehe... lengkap amat), ada pencerahan yang membuat aku sadar,
"iya ya.. kambing, sapi, unta bahkan kerbau... abis disembelih masih banyak manfaatnya buat manusia, selain mengenyangkan, nikmat juga ada aja gizinya, lha klo manusia abis disembelih?", langsung deh merinding bawaannya.

Bayangkan kalo saja selama hidupnya manusia itu tidak dapat bermanfaat untuk orang lain, bagaimana dia mati nanti?
Allah memang Maha Adil, dikala hewan tidak diberinya akal, dia dijadikanNYA qurban sebagi persembahan mulia untuk menyempurnakan ketaqwaan hamba-hambaNYA. Sementara manusia dengan akalnya lebih sering mengalahkan Allah demi tuhan-tuhannya yang lain, tuhan jabatan, tuhan harta, tuhan prestise, tuhan gengsi...
Terus kalo ada manusia seperti itu, bagaimana derajatnya nanti dihadapan ALLAH ketika sama-sama menjadi bangkai seperti kambing, sapi atau kebo?

Monday, November 23, 2009

Man Jadda Wajada

"Siapa yang bersungguh-sungguh berusaha akan mendapatkan apa yang diharapkannya"

Itulah Sunatullah-nya, Allah mempunyai hukum yang selalu berlaku di alam ini, dan ini yang biasanya terlupakan. Karena merasa sudah berdoa, menjalankan syariah dengan seksama, berderma dan taat pada orang tua, merasa berhak atas rejeki yang turunnya dari langit. Padahal sebaliknya diluar sana, jelas-jelas orang bule tuh banyak yang atheis, tapi terbukti bisa kaya. Ternyata memahami hidup dan kehidupan ini nggak bisa sepenggal-sepenggal, kalo diteliti lebih dalam, banyak yang bisa ngomong "aku bekerja sudah sungguh-sungguh lho!", tapi kesungguh-sungguhannya tidak nampak dalam setiap tindakan.
Pengalaman aku selama berhubungan dengan american maupun european, biarpun mreka nggak ngomong aku membangun bisnis ini dengan sungguh-sungguh, tapi kesungguhan itu justru terlihat dengan jelas dengan bagaimana dia menghandle bisnisnya dan pekerjaannya. Mereka terkondisikan untuk on-time karena menghargai banget waktu, ter-schedule dengan membuat prioritas-prioritas akibatnya sangat efektif, komitmen karena tau betul apapun yang dia perbuat akan selalu mengandung resiko dan detail. Padahal klo ditanya-tanya, dasar mereka berkerja hanya karena memang tuntutannya seperti itu untuk sukses, mereka nggak mengenal yang namanya bekerja adalah ibadah.

Dalam benak aku mengagumi, betapa hebatnya Islam yang selalu melandaskan segalanya sebagai ibadah, yang berarti segala hal yang diperbuat seorang muslim didunia ini akan dipersembahkan untuk Yang Kuasa. Kesungguhan itu sudah seharusnya ada diawal sebelum segalanya berjalan, tapi kenapa malah yang terjadi sebaliknya?

Aku salut banget buat siapa saja yang sudah bisa mematrikan dalam dirinya bahwa bekerja adalah ibadah diselimuti dengan kesungguhan untuk mempersembahkan yang terbaik kepada sesama makhluk Tuhan, insyaallah yang namanya syurga dunia akan sangat mudah diraih dan syurga akherat insyaallah juga di dapat. Hebat ya orang-orang yang menjadikan jihad itu sebagai motor hidupnya....

"Ya Allah ajari aku untuk selalu dapat berusaha maksimal dengan
kemampuanku dan ajari aku untuk selalu mengandalkan Engkau dalam setiap hasil usahaku.
Amin
"

Sunday, November 22, 2009

Being an entrepreneur

Let's get started our own business...

Sekarang ini memang bisa disebut era enterpreuner, orang banyak berbondong-bondong untuk menjadi pengusaha, hanya modal beberapa barang aja, ibu-ibu rumah tangga udah bisa jualan On-Line dan tiba-tiba jadi pengusaha. Memang mudah memulai sebuah usaha selama ada kemauan, tapi setelah itu... what's next?

Ternyata banyak hal yang perlu dipelajari seiring denga berjalanan bisnis. Semakin besar sebuah bisnis semakin besar pula tuntutan kepada diri sendiri untuk berkembang. Neh, dari buku The One Minute Entrepreneur banyak hal-hal penting yang bisa dijadikan catetan, kalo Jud bilang, usahakan untuk selalu bikin catetan mengenai kebijaksanaan yang dibaca, didengar dan dilihat lalu diintisarikan kedalam "Hikmah Satu Menit"...

Aku udah pilih sedikit neh.. yang aku sesuaikan dengan kebutuhanku saat ini:

~ Apa yang benar jauh lebih penting dari pada siapa yang benar (aku pilih ini buat mengingatkan diri aku sendiri... ntar kalo udah jadi bos jangan mentang-mentang besar, kaya dan terkenal. Tapi tetap harus memegang prinsip "berpegang selalu pada yang benar" dan kalo ternyata karyawan menyampaikan sesuatu yang benar, hargai itu. Sebenernya mulai dari sekarang juga udah harus dijalankan, so siapapun orangnya selama mereka memegang prinsip yang benar, just respect and follow!)

~ Pandulah penjualan dengan kedua telinga Anda (artinya, sabar dan jadilah pendengar yang baik, bukan napsu aja pengen segera jualan, aku seringnya blank enggak mendengarkan dengan baik, akibatnya blank juga deh ama kesempatan yang ada)

~ Karakter dan nilai-nilau harus lebih diutamakan dibanding kepribadian dan penampilan (karena ternyata karakter lebih dominan dan berpotensial menjadi masalah, so pilih mereka yang berkarakter mulia untuk diajak berkerja sama dalam kemuliaan)

~ Pelanggan Anda adalah sumber dari kelangsungan hidup Anda - buat mereka yang membayar tagihan (hehehe... ini neh penting banget, seringnya seorang pengusaha nggak punya keberanian untuk tegas dalam hal pembayaran, takut dibilang tidak kooperatif lah, takut dicap pelit dan yang parah takut pelanggannya ilang, padahal mendingan ilang aja dari pada nggak bayar...)

masih banyak sih point-point yang kudu dicermati klo pengen tetap eksis dalam sebuah bisnis, cuman beberapa hal diatas neh yang buat aku sendiri sementara ini cukup untuk menjadi catatan kaki....
selamat berwira usaha....

Saturday, November 21, 2009

Show me the money

Ini neh terinspirasi dengan Tungdesem Waringin seorang motivator #1 Indonesia versi majalah SWA dan seorang dengan ide penjualan yang dashyat, dari cd-nya Marketing Revolution.

Kenapa banyak penjual yang selalu menggunakan alasan keterbatasan budget promosi sebagai kendala tercapainya target?

"Show me the money!"
Kalo aku seorang pengusaha pemula yang ingin mempromosikan product baru dan harus mengeluarkan duit ratusan juta hanya untuk biaya promosi, karena manager marketingnya bilang kudu pasang baliho ditempat terstrategis di semarang supaya banyak orang yang tau, yaitu sekitar simpang lima dan jalan pahlawan. Pertanyaan selanjutnya adalah, berapa banyak omset yang akan aku dapat, dalam waktu berapa lama dan berapa lama biaya promosi itu akan balik, kalo pertanyaan balik ini nggak bisa terjawab, hehehehe.... perlu dipertanyakan tuh kredibilitas sang manager.

Jadi keingetan waktu masih kerja di Juwana ama di Pudak Payung, even pameran tahunan di SPOGA, Koln German, selalu dipaksakan menjadi ukuran sebuah perusahaan furniture yang besar dan bonafid. Makanya nggak pernah tuh ketinggalan, dipaksa-paksain kudu ngikut. Padahal kebayang kan biaya yang dikeluarkan, buat sewa booth-nya aja berapa, belon tiket PP dan uang saku. Sementara feedback berupa order yang ntar bakalan didapet masih samar-samar. Tapi kalo dulu aku still pe-de dengan pameran neh bisa dapat kontainer dan order yang banyak setidaknya meningkatkan gengsi perusahaan. Ternyata.... !!!! enggak pernah tuh aku deal di tempat pameran dan pulang dapet order, seandainya ada yang deal ditempat pameran, aku yakin, harganya nggak pake harga jual di German, jadi gimana tuh?

Belakangan baru deh nyadar, "kenapa harus selalu SPOGA, lagian type businesmu seperti apa? inget-inget aja kapan order itu turun, bagaimana prosesnya dan bagaimana pasarnya....", gitu kata pak adi.

Emang bener sih, order yang turun selalu melalui proses yang itu nggak mungkin dilakukan pada saat pameran. Karena customer nggak pengen cuman ngeliat disply product aja, melainkan fasilitas pabrik, belum lagi kalo barang yang diorder adalah custom, mereka perlu melihat sample. Artinya kalo pun ikut pameran, apa tujuannya? kalo untuk dapat order, jelas tujuan yang keliru. Kalo untuk image, emang kita perusahaan sebesar apa sampai perlu mengeluarkan ratusan juta untuk image? Kecuali kita perusahaan rokok...

Belum lagi, melihat kondisi pasarnya, kita kan supplier nih, kok pameran dilahannya customer, ada baiknya sih, kalo bisa menjual dengan harga jual disana, permasalahannya semahal-mahalnya kita pasang harga tetep nggak bagus untuk wholesaler atau importer, apalagi mereka adalah customer. masak mau bersaing ama customer sendiri?

Artinya adalah, banyak hal yang harus dipahami, khususnya mengenai typical dari masing-masing bisnis itu sendiri, promosi adalah penting, yang terpenting adalah mempelajari gimana supaya promosi menjadi lebih effective dan murah, jadi pengetahuan untuk sebuah bisnis yang sedang dijalankan jauh lebih penting untuk dipahami terlebih dahulu dari pada hanya sekedar promosi. Sebab kalo pelaku bisnis itu paham persis dengan bisnis yang sedang dia jalankan, tidak diperlukan banyak uang untuk mendapatkan uang, bahkan tidak perlu mengeluarkan uang untuk mendapatkan uang. (I really enjoyed this part! hehehe)